Aku mau Dia
Aku mau dia….
Kenapa?….
Karena dia sempurna…..
PS:
Dia yang hari ini gue coba nelpon pagi….tapi gak bisa karena dodolnya esia dan interlokalnya…..dan entah bagaimana dewi itu menelpon ku sorenya….lucky!
PS2:
Bantuin cini bikin makalah tentang utilitarianism….Gak ngerti gue suer dah…..tapi gue suka bikin artikel….walhasil yang gue bikin malah 2 halaman artikel bukan makalah….Maaaak ampun cini, semoga artikelnya bisa dikembangin jadi makalah…..abis gak ngerti banget gue utilitarianism…..
Berikut tulisan gue…..yang mo baca dan pusing silahkan…gak ada yang ngelarang….hehehe…..but rest assure if you read this you will gain something….
Pemikiran awal dari utilitas adalah bahwa manusia hanya memiliki dua nilai intrinsik dalam hidup. Merasa bahagia atau merasa sedih (terkadang dikategorikan kedalam hilangnya rasa bahagia). Melalui pemikiran ini diciptakanlah teori utilitas yang menghubungkan antara benda (goods) dan kebahagiaan. Dimana, dalam ilmu ekonomi utilitas atau nilai guna diukur melalui bagaimana tingkat kebahagiaan atau kepuasan seseorang dalam mengkonsumsi barang atau jasa.
Utilitarianisme adalah sebuah pemikiran dimana moral sebuah perbuatan seseorang ditentukan bukan melalui common sense (apa yang berlaku secara umum di masyarakat) tetapi melalui bagaimana sebuah perbuatan tersebut dapat membahagiakan masyarakat secara umum. Pemikiran utilitarianisme ini merupakan perbaikan dari pemikiran adam smith dalam buku wealth of nations dimana setiap orang secara common sense (atau bisa juga disebut common morality) akan hanya perduli kepada dirinya sendiri (self interest/selfishness/egoism). John Stuart Mill berpendapat bahwa agar tidak terjadi egoism dalam masyarakat, pemerintah harus menerapkan sistem utilitarianisme, sehingga dalam masyarakat seseorang dapat selalu memberikan nilai tambahan kebahagiaan kepada masyarakat secara umum. Pada praktiknya, utilitarianisme memerlukan campur tangan oleh pemerintah tidak seperti laissez faire dari Adam Smith. Contoh dari praktik utilitarianisme pada abad 21 ini adalah pajak progresif dari penghasilan. Dimana orang yang memiliki gaji yang lebih besar harus membayar pajak yang lebih besar dibanding yang memiliki gaji yang kecil demi kemajuan negara atau masyarakat pada umumnya.
Namun, kaum utilitarianisme juga tidak luput dari kritik. Karena manusia sebenarnya ingin dapat sebebas-bebasnya dalam melakukan sesuatu. Kaum egoism berpendapat bahwa selama seseorang tidak merugikan orang lain maka orang tersebut tidak perlu berkorban untuk orang lain (menjadi utilitarianism). Utilitarianism juga dilihat sebagai penghilangan bentuk sebuah individu, pada sisi ekstrimnya utilitarianisme juga dapat berlaku sebagai kaum komunis dimana setiap individu tidak dihargai demi kemajuan seluruh bangsa. Hasilnya, setiap orang merasa tidak butuhnya bekerja keras karena nantinya yang bekerja keraslah yang paling rugi karena harus menghidupi yang miskin. Sebagai ilustrasi, ada dua pasien yang satu tidak merawat ginjalnya dengan baik sehingga kedua ginjalnya harus diangkat, yang satu lagi datang untuk operasi amandel. Jika utilitarianisme adalah sebuah hukum yang harus ditaati, maka pasien amandel harus memberikan ginjalnya kepada orang lain itu. Padahal orang lain tersebut berada di posisi tersebut karena kesalahannya sendiri.
Sedangkan orang yang peduli akan hak asasi manusia berpendapat bahwa utilitarianisme itu yang menyebabkan perbudakan, dimana sistem perbudakanlah yang menyebabkan terciptanya jalan anyer-panarukan di Indonesia dan sudah bertahun-tahun sejak jalan itu diciptakan orang Indonesia memperoleh keuntungan darinya. Namun, apakah hal itu bermoral?
Juga isu-isu tentang perang sebagai contoh perang irak dimana sebuah pengorbanan dari sedikit rakyat biasa korban perang itu adalah “harga yang pantas” untuk dibayar demi kemenangan sebuah negara amerika dan rakyat amerika secara umumnya.
Berhasil tidaknya utilitarianisme menghilangkan egoisme dalam masyarakat tergantung dari masyarakat tersebut. Pada beberapa kasus utilitarianisme benar-benar dapat menghilangkan egoisme dalam masyarakat dengan sistem yang baik (misalkan pajak progresif yang distribusinya benar). Namun juga tidak jarang bahwa utilitarianisme malah menjadi tameng bagi kaum oportunis menjustifikasi perlakuan egoisme-nya (seperti perang irak). Oleh karena itu adanya utilitarianisme juga harus dilandasi oleh common sense yang ada di masyarakat agar tidak salah jalur.
January 2nd, 2007 at 5:19 am
whuah, thankyou so much for the paper. bagus kali, zhar. ilustrasinya tepat. sbnernya ada paper ekon satu lagi, tp yg ngerjain malta.
hidup anak ekonomi! c=