4 hari inet mati
Kurang ajaaaaa~r…telkomm gak tau di untung…4 hari inet matek…apa seh maunya,….jadinya gue gak bisa gaul..gak bisa nulis blog…gak bisa belajar apa itu istilah2 aneh….sompreeeet….ngerusak aja deh……bikin setres….anyway, ini tulisan baru gue di lunchbox…..dah ditulis 2 minggu yang lalu cuma baru berani di launch sekarang….
Gue kalo nulis itu…ditahan dulu…baru dibaca lagi…kalo dibaca yang kedua gue masih terkesan dengan tulisan gue baru deh di launch…kalo gak….yah gak gue launch…jangan terburu2 lah yang penting kalo nulis sesuatu….tulisan selanjutnya ada hubungannya dengan Oda Nobunaga yang dulu gue tulis….
Bodoh itu Perlu!
Ketika kita masih kecil dan idealisme dalam menjalani dunia masih tinggi. Kita selalu berharap kita dapat menyelamatkan dunia. Mulai dari menjadi professor yang nantinya dapat menciptakan alat demi kemajuan manusia sampai menjadi superhero yang memiliki kemampuan super untuk menyelamatkan orang. Dan tidak pernah terbersit dalam otak kita untuk menjadi orang jahat. Kita semua berharap menjadi orang yang spesial yang dapat menyelamatkan dunia. Namun, kita mempelajari kenyataan dan ternyata dunia tidak seindah yang kita pikir.
Beranjak dewasa kita seakan-akan terus dicekoki oleh pikiran-pikiran bahwa bodoh untuk tetap menjadi seseorang yang idealist (yang biasanya orang tersebut tidak mendapatkan keuntungan malahan biasanya kesulitan dari sesuatu itu). Bahwa sebuah tindakan yang bodoh untuk mempercayai orang lain. Dan dalam teori adam smith, tidak rasional untuk menolong orang lain tanpa ada pamrih[1]. Seakan-akan yang disebut dengan pintar adalah sesuatu yang jauh dari pemikiran humanisme dan moralitas manusia.
Pemikiran-pemikiran negatif tentang manusia ini sebenarnya tidak pernah dengan sengaja diajarkan oleh orang tua kita. Hanya saja manusia berinteraksi, mereka bisa salah paham, mereka dapat melakukan kesalahan ke kita dalam pembelajaran hidup mereka. Dan mungkin apa yang mereka lakukan ke kita adalah sesuatu yang nantinya akan mereka sesali dalam hidup mereka. Tapi, masalahnya orang-orang biasanya belajar dari kesalahan yang mereka lakukan dengan orang lain. Dari pembelajaran ini biasanya menghasilkan sesuatu yang negatif. Mulai dari tidak percaya dengan manusia sampai hilang sisi kemanusiaan dalam diri seseorang karena dia mempelajari bahwa menurut dia manusia tidak jauh dari binatang yang hanya mencoba untuk bertahan hidup. Hal ini sepertinya dapat kita lihat pada kasus Adam Smith, Das ‘Adam Smith-Problem’.
Adam Smith seorang ahli filsafat moral menciptakan dua buku yang bertentangan. Buku yang pertama berjudul “The Theory of Moral Sentiments” yang diciptakannya pada umur yang relatif muda (36 tahun) menyatakan bahwa manusia itu menemukan kenikmatan hanya dengan melihat orang lain bahagia[2]. Ditunjukkan bahwa manusia tidak memiliki self interest dan berperilaku unselfish terhadap orang lain. Namun 17 tahun kemudian keluarlah buku kedua An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations atau sering disingkat Wealth of Nations menyatakan bahwa manusia merupakan orang yang sangat selfish sangat self-interest dan hanya perduli kepada keuntungan dan kemakmuran dirinya sendiri. Dari kedua hasil karya Adam Smith yang menciptakan Das ‘Adam Smith-Problem’ ini dapat kita katakan bahwa Adam Smith menemukan sebuah pembelajaran yang mungkin tidak menyenangkan yang merubah pandangan awal dia mengenai perilaku manusia terhadap orang lain.
Pada tahun 1965, Martin Seligman menemukan bahwa ada yang disebut dengan learned helplessness, yaitu sebuah situasi dimana seseorang telah belajar dan menemukan bahwa percuma (helpless) untuk merubah suatu keadaan sehingga seseorang tidak mencoba untuk merubah keadaan tersebut. Dan pada penelitian ini ditemukan bahwa seseorang merasa percuma untuk berubah ketika pada awal ia menemukan masalah ia gagal untuk menyelesaikan masalah. Contohnya adalah ketika terjadi holocaust di kamp NAZI banyak orang yang menerima dengan pasrah hukuman fisik, padahal ada kesempatan bagi mereka untuk melawan hukuman tersebut. Contoh lainnya ketika pesawat jatuh dan berkata “Itu memang sudah takdir” dan tidak menindaklanjuti “Siapa yang bertanggungjawab atas jatuhnya pesawat”. Atau mungkin ketika Jakarta banjir dan seseorang menerima begitu saja banjir tersebut karena “itu sudah tradisi”.
Pemikiran “ah, tidak mungkin” didalam kitalah sebenarnya yang membuat kita menjadi lemah dan menimbulkan self hypnosist yang dipercaya dapat menurunkan kemampuan sebenarnya dari manusia[3]. Pemikiran bahwa “ah tidak ada yang bisa saya percaya” itulah yang sebenarnya membuat diri kita kesepian. Oleh karena itu, untuk sekali-sekali bodoh itu perlu. Bahwa perlu untuk selalu percaya bahwa suatu saat kita akan benar dapat merubah dunia menjadi lebih baik. Bahwa suatu ketika nanti manusia akan memiliki moralitas yang lebih baik dari sekarang dan beradab. Jangan pernah menyerah pada diri kita sendiri dan kemanusiaan.
[1] It is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest. — he intends only his own gain, and he is in this, as in many other cases, led by an invisible hand to promote an end which was no part of his intention –Wealth of Nations-
[2] How selfish soever man may be supposed, there are evidently some principles in his nature, which interest him in the fortunes of others, and render their happiness necessary to him, though he derives nothing from it, except the pleasure of seeing it –The Theory of Moral Sentiments
[3] Pada buku blink karya Malcolm Gladwell dijelaskan bahwa self hypnosist dapat menurunkan kemampuan intelektual seseorang dan mempengaruhi emosi orang. Penelitian emosi dilakukan dengan menunjukkan kata-kata yang berhubungan dengan emosi tertentu yang menghasilkan perilaku yang sama dengan kata-kata yang ditunjukkan.